mengerti sedikit demi sedikit tentang agama memang membuatku harus bekerja keras untuk memacu setiap detik yang ku habiskan menghirup udara bebas dari santunan alam melalu sentuhan Allah. aku baru saja mulai memberanikan diri kembali mengulang retail setiap keajaiban keajaiban yang menghampiriku di waktu aku masih bersekolah dulu, sekang aku tela jadi mahasiswa yang inshAllah sebentar lagi akan menyelesaikan program sarjana.
aku bukanlah produk dari keluarga yang mengenal dalam Islam, agama orangtuaku memang islam semuanya beragama, mama dan papa punya prinsip berbeda dalam persoalan hijab anak gadisnya. mama sangat antusias denga pakaian hijab yang dulu sempat aku pakai, namun sebaliknya dengan papa, papa hanya mengharapkan aku memperbaiki sholatku saja, klo maslaah hijab itu hanya sebatas penmpilan saja, ketulusan hati yang dipentingkan.
ada nya perbedaan persepsi dari orangtua ini lah yang sempat membuat saya sedikit berada pada titik plin plan. satu sisi aku membenarkan apa yang diingini mama, dan sisi berikutnya pun aku membenarkan apa yang disampaikan papa.
well....
semua memang jadi rumit klo diliat dari satu pojok aja, lantaran aku mengenal mereka di dunia ini adalah orang yang paling tulus menyayangi dan mencintaiku.
repotnya merawatkupun bukan jadi hal yang besar yang harus aku bayar kembalai pada mereka.
lanjutkan kembali bagaimana kisah perhijaban seorang aku..
berawal dari sekolah dan pendidikan, yah mungkin kalimat itu yang paling tepat ku sampaikan. aku mengenal orang berjilbab lebar baru waktu masih SMA, dari temanku dan guru privatku.
keluarga tak satupun yang memakai hijab sepeerti itu. pakaian seperti itu terasa lucu saja. yang memakai kerudungpun cuma saya di waktu itu, alhamdulillh sekarang sudah ada yang ngikut walaupun cuma pakai kerudung.. yah alhamdulillh
mama berkerudung waktu jam kerja aja, itupun karen aadanya atuan dari pemda setempat untuk memakai kerudung ke kantor oleh pemerintah setempat.
dari segi pemahaman agama aku memang tidak seberuntung mereka yang dari kalangan kokoh agamanya. aku hanya mencoba terus dan terus untuk menepati keadaan agar aku semakin memahami agama.
karnanya aku selalu gencar berburu buku buku agama, agar aku juga bisa paham dan mengerti seperti yang teman teman rasakan indahnya Islam.
permasalahansaya bukan dari tatakrama ataupun kesopanan, permasalahan saya selalu dari hijab, hijab hijab...
never ending...
masih nggak PeDe memakai baju2 kebesaran dan jilbab lebar seperti itu..
berkerudungpun aku dapati dari guru privat waktu sekolah dulu, mama tidak mau melepasku belajar terlalu jauh dari rumah, makanya aku diberikan guru privat. guru yang paham dengan islam. kemudian aku dikenalkan kepada seorang teman yang berhijab layaknya orang orang dari arab sana. vivi namanya..
sejak perkenalan itulah aku mulai merasakan indahnya Islam dan indahnya persahabatan.. agamalku terasa semakin kuat, sholat tak pernah bolong bolong lagi, mengajipun aku sudah bisa menamatkan beberapa kali. indah Islam yang ku rasa. sangat indah.
siang berteman dengan vivi yang akrab ku sapa akak, dan malam ku banting diri dengan belajar yang dituntun bersama bu ta ataupun suaminya pak eri. orang orang luarbiasa bersamaku.
tapi... sekarangpun aku kehilangan.
hilang satu persatu, kehilangan sosok sahabat setelah adanya "sesuatu" yang aku pun tidak mengerti klo itu yang menyebabkan perceraian persahabatan kami.
kerinduan yang lebay akhir akhir ini...
meniupkan kerinduan padaku.. sedikit coretan kerinduan yang selalu ku sampaikan setiap malam yang ku lalui.
benar apa yang telah disampaikan dalam hadist..
"jangan terlalu mencintai sesuati bisa jadi akan kamu benci, dan begitu juga sebaliknya jangan telalu membenci sesuatu, bisa jadi kamu mencintainya"
memang benar, tapi.. aku butuh teman teman terbaik seperti dulu...
atau aku beranjak kembali ke waktu itu..
impossible..
#nah aku harus menjadi sesuatu agar aku bisa menemukan sesuatu
mungkin itu salah satu cara menemukan sosok baru yang tidak jauh berbeda dengannya..
aku bukanlah produk dari keluarga yang mengenal dalam Islam, agama orangtuaku memang islam semuanya beragama, mama dan papa punya prinsip berbeda dalam persoalan hijab anak gadisnya. mama sangat antusias denga pakaian hijab yang dulu sempat aku pakai, namun sebaliknya dengan papa, papa hanya mengharapkan aku memperbaiki sholatku saja, klo maslaah hijab itu hanya sebatas penmpilan saja, ketulusan hati yang dipentingkan.
ada nya perbedaan persepsi dari orangtua ini lah yang sempat membuat saya sedikit berada pada titik plin plan. satu sisi aku membenarkan apa yang diingini mama, dan sisi berikutnya pun aku membenarkan apa yang disampaikan papa.
well....
semua memang jadi rumit klo diliat dari satu pojok aja, lantaran aku mengenal mereka di dunia ini adalah orang yang paling tulus menyayangi dan mencintaiku.
repotnya merawatkupun bukan jadi hal yang besar yang harus aku bayar kembalai pada mereka.
lanjutkan kembali bagaimana kisah perhijaban seorang aku..
berawal dari sekolah dan pendidikan, yah mungkin kalimat itu yang paling tepat ku sampaikan. aku mengenal orang berjilbab lebar baru waktu masih SMA, dari temanku dan guru privatku.
keluarga tak satupun yang memakai hijab sepeerti itu. pakaian seperti itu terasa lucu saja. yang memakai kerudungpun cuma saya di waktu itu, alhamdulillh sekarang sudah ada yang ngikut walaupun cuma pakai kerudung.. yah alhamdulillh
mama berkerudung waktu jam kerja aja, itupun karen aadanya atuan dari pemda setempat untuk memakai kerudung ke kantor oleh pemerintah setempat.
dari segi pemahaman agama aku memang tidak seberuntung mereka yang dari kalangan kokoh agamanya. aku hanya mencoba terus dan terus untuk menepati keadaan agar aku semakin memahami agama.
karnanya aku selalu gencar berburu buku buku agama, agar aku juga bisa paham dan mengerti seperti yang teman teman rasakan indahnya Islam.
permasalahansaya bukan dari tatakrama ataupun kesopanan, permasalahan saya selalu dari hijab, hijab hijab...
never ending...
masih nggak PeDe memakai baju2 kebesaran dan jilbab lebar seperti itu..
berkerudungpun aku dapati dari guru privat waktu sekolah dulu, mama tidak mau melepasku belajar terlalu jauh dari rumah, makanya aku diberikan guru privat. guru yang paham dengan islam. kemudian aku dikenalkan kepada seorang teman yang berhijab layaknya orang orang dari arab sana. vivi namanya..
sejak perkenalan itulah aku mulai merasakan indahnya Islam dan indahnya persahabatan.. agamalku terasa semakin kuat, sholat tak pernah bolong bolong lagi, mengajipun aku sudah bisa menamatkan beberapa kali. indah Islam yang ku rasa. sangat indah.
siang berteman dengan vivi yang akrab ku sapa akak, dan malam ku banting diri dengan belajar yang dituntun bersama bu ta ataupun suaminya pak eri. orang orang luarbiasa bersamaku.
tapi... sekarangpun aku kehilangan.
hilang satu persatu, kehilangan sosok sahabat setelah adanya "sesuatu" yang aku pun tidak mengerti klo itu yang menyebabkan perceraian persahabatan kami.
kerinduan yang lebay akhir akhir ini...
meniupkan kerinduan padaku.. sedikit coretan kerinduan yang selalu ku sampaikan setiap malam yang ku lalui.
benar apa yang telah disampaikan dalam hadist..
"jangan terlalu mencintai sesuati bisa jadi akan kamu benci, dan begitu juga sebaliknya jangan telalu membenci sesuatu, bisa jadi kamu mencintainya"
memang benar, tapi.. aku butuh teman teman terbaik seperti dulu...
atau aku beranjak kembali ke waktu itu..
impossible..
#nah aku harus menjadi sesuatu agar aku bisa menemukan sesuatu
mungkin itu salah satu cara menemukan sosok baru yang tidak jauh berbeda dengannya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar