Kamis, 18 Oktober 2012

ini masa depan

Kalau bicara soal cowok dan sederet pujaan hati yang berwujud makhluk lawan jenis ketika nongkrong bareng teman teman lama, cukup bikin aku minder juga. Meskipun terkadang aku merasa paling hebat ketika aku berstatus single dan tidak ada yang menggurui setiap langkah dan mewanti wanti untuk segera begini dan segera begitu.

Bukan berarti aku diam diam mulai hilang selera membicarakan kaum adam bersama kaumku kaum hawa, aku merasa ketidakwajaran untuk membahas mereka pada usia yang masih labil dan rentan untuk disakiti dan menyakiti atau sering disebut bermain hati.

Lingkungan memang sudah mulai menjamu aku dengan cerita tentang masa depan, cerita berumah tangga. Namun hal itu belum mampu menjerat pikiranku terlalu dalam dan berlarut. terlintas tentunya pasti ada dalam pikiran. Aku kerap kali masih memikirkan dengan keras bagaimana aku bisa menjadi apa yang aku impikan, membangun karir sebaik mungkin dengan kebaikan sebaik mungkin.

Tidak dapat dipungkiri, teman teman sebaya sudah ada yang berumah tangga, sudah ada yang punya pasangan yang "belum resmi", ada juga diantara mereka yang masih menetap dengan impiannya seperti saya pada kali ini.

Hal ini belum bisa disimpulkan bahwa aku telah terlibat pada kasus "student holic and working holic". tentu saja belum bisa ditarik kesimpulan.
Hingga usiaku menuju angka 23 tahun, sepertinya yang jadi prioritas utama aku adalah menyelesaikan studi dengan baik di sarjana, dan merajut impian mencari nafkah, minimal menafkahi diri sendiri dulu ingin sekali aku rasakan. Ingin merasakan bagaimana nikmatnya jerih payah sendiri dan bagaimana nikmatnya memberikan uang bulanan buat kedua orangtua, meskipun mereka tidak begitu mengharapkan imbalan atas apa yang sudah beliau berikan kepada anak anaknya. Orangtuaku memang orangtua cap jempolan deh. Segala sesuatunya telah mereka persiapkan untuk kami. saya yakin semua orangtua didunia juga akan berpikiran sama dengan orangtuaku, cuma saja dengan cara yang berbeda beda sesuai dengan seni mereka masing masing.

Aku berusaha apatis dengan lingkungan yang membicarakan pasangan hidup kelak. aku hanya ingin menjalani perjalan hidup hari ini dan dengan sedikit persiapan keesokan harinya, kita tidak bisa menerka kejadian kejadian selanjutnya yang akan menghampiri kita, bagiku kecukupan finansial dan keimanan harus selalu dijaga dan ditingkatkan.

Semua hal tentang pasangan hidup tidak begitu kontras dalam kehidupan harianku. Aku juga pernah mengetahui sedikit kebijaksanaan dari keluarga. tentang pasangan hidup, hingga aku tidak perlu galau untuk memikirkan secara detail hingga kesana, sekarang tetap fokus pada sarjana dan memulai karir hingga batas yang belum bisa di pastikan.

 Berbincang masalah pasangan, mungkin aku lebih mempercayakan pemilihan ini kepada orang terdekatku, bisa jadi itu dari pilihan orangtua dan saudara. hal ini karena aku lebih yakin dengan pilihan mereka. pilihan yang tentunya tidak akan mengecewakan. sering kami berdiskusi dengan mama dan papa tentang hal ini. Aku hanya pesankan "jika suatu hari nanti telah datang waktunya untuk berumah tangga akan ku kabarkan dan akan sabar menunggui pilihan beliau."




Tidak ada komentar:

Posting Komentar