Minggu, 05 Februari 2012

ketika harus menerima

ketegaran itu tidak terwakilkan lagi. seperti halnya lampion yang menyala terang dalam remang malam yang menghinggapi jalanan desa yang suci bercengkerama dengan jangkrik.

haruskah merelakan semua yang telah dibangun menjadi kealpaan.

baru saja sejenak duduk menghindari hiruk pikuk galau berita menyapa ketentraman jiwa melihat seorang wanita paruh baya merawat penuh cinta anak kandung dan anak tirinya.

dia sosok wanita hebat yang baru saja memperingati satu tahun kepergian suaminya ke alam yang berbeda. alam keabadian.

tapi..
sekarang telah terlanjur jadi trend media masa. aku benar benar tidak bisa percaya begitu saja, sebelum palu hakim benar benar menganggukkan itu memang terjadi.

besar harapan wanita itu hanyalah korban dari politik yang lagi lagi penuh intrik.
ya Tuhan..
tegarkanlah wanita itu ya Rabb..

begitu elok sapanya begitu ramah senyumnya.
aku slalu berharap itu hanya sebatas ujian penempaan iman seorang mualaf yang selalu menaikkan grade imannya terhadap Allah.

aku bukan fanatik apalagi fans beratnya dia
aku hanya kagum dengan sosok literatur jiwanya, ikhlas senyum dan sayangnya yang selalu merekah.

aku kagum pada sosok wanita wanita hebat seperti dia, yang bisa membuat betah anak tirinya tinggal bersamanya meskipun tanpa suami yang telah mengantarkan makhluk cantik cantik itu kini hidup dalam dekapannya.

salut buatmu mba angie..

aku yakin uji dan coba itu bukan untuk dirobek lembarannya, tapi untuk diisi semampumu..
karna Allah menguji hambanya sesuai dengan kapasitas iman dan takwa hambanya..

#semoga harapan tidak mengecewakan pendengar berita yang sering kali memunculkan kamu di hadapan publik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar